Posted by : Unknown Saturday, September 28, 2013



Seorang guru yang pernah mengajar dari TK sampai SMU pernah bertutur, bila anak-anak TK berkelahi beberapa menit sudah berpelukan. Namun jika siswa tersinggung, diperlukan waktu lama untuk berpelukan kembali. Ini memberi pelajaran, semakin tua seseorang, semakin sulit ia memaafkan.

Ini juga yang bertanggungjawab kenapa kerja sama antar orang menjadi tidak sederhana. Mengatur kerja sama antar perusahaan untuk menyelamatkan industri, itu lebih sulit lagi. Menandatangani kesepakatan perdamaian antar negara, itu yang paling sulit .

Tentu terlalu dini bila disimpulkan kalau pendidikan dan pengalaman itu berbahaya. Ada memang pendidikan dan pengalaman yang membuat seseorang jadi fanatik, ada juga pendidikan dan pengalaman yang membuat manusia jadi rendah hati sekaligus open minded.

Ini yang sulit dicari. Berpendidikan, berpengalaman sekaligus membuka diri pada orang lain. Ia menjadi sulit karena pengetahuan cenderung membangun kotak, kemudian membagi manusia ke dalam dua kelompok. Yang sesuai dengan kotak disebut teman, yang tidak sesuai menjadi lawan. Itu sebabnya banyak perang dan permusuhan di mana-mana.

Manusia bukan Musuh

Pusing dengan hal-hal seperti ini, seorang murid mencoba mengadu pada gurunya. Dengan lembut gurunya berpesan, sesakit apa pun tubuhmu, seberat apa pun beban jiwamu, berjanjilah bahwa manusia tidak pernah menjadi musuh kita. Musuh sesungguhnya adalah kesalahpahaman.

Tersentuh oleh pesan-pesan seperti inilah, mereka yang memiliki kedewasaan kemudian menghentikan permusuhannya dengan semua orang. Kemudian pelan perlahan mengurai banyak sekali kesalahpahaman. Bukan dengan perdebatan, melainkan dengan kebaikan. Seperti pesan tetua di Jawa: “huruf Jawa bila dipangku mati”. Dipangku maksudnya diorangkan. Yang mati dalam hal ini bukan tubuhnya, melainkan egonya.

Dan tatkala keakuan tewas, ada diri yang lebih agung muncul yang lahir hanya untuk menolong. “Menolong itu sebuah kegembiraan”, begitulah kira-kira prinsip manusia jenis terakhir. Sister Chan Khong dalam Learning True Love menuturkan, bila ia menikah mungkin hanya bisa melayani beberapa anak. Namun tanpa pernikahan, ada ribuan anak yang bisa diselamatkan. Dalam otobiografi pelayanannya ini, wanita lembut ini menjadi ‘pengemis’ ke sana ke mari untuk membangun rumah-rumah yang hancur oleh bom, mengobati anak-anak yatim piatu, membawa mereka kembali ke sekolah di Vietnam.

Dan yang paling mengagumkan dari semua ini, di salah satu halaman buku indah ini ia berbisik, ketika meminta bantuan materi ke orang-orang, sesungguhnya ia tidak saja membantu korban perang di Vietnam, namun juga melatih banyak pemberi untuk membangunkan sifat-sifat kebaikan yang ada di dalam dirinya.

Terlihat jelas, dalam setiap kegiatan pertolongan, tidak saja yang diberi memperoleh manfaat, yang memberi pun memperoleh manfaat. Bahkan manfaat yang lebih besar: matinya ego sekaligus lahirnya kebaikan. Di jalan ini, berlaku rumus generousity is complete in itself. Pemberian itu sudah sempurna hanya dengan dilaksanakan. Tanpa dihitung, tanpa ditagih, tanpa diharapkan. Ada juga yang menulis: The very purpose of spiritual practise is to serve others. Melayani, itulah satu-satunya tujuan olah spiritual.

Lahirnya Bayi Kebaikan 

Sebagaimana diceritakan rapi oleh film Pay It Forward. Satu kebaikan bisa beranak pinak sampai merubah sebagian besar masyarakat. Andaikan banyak pemimpin yang trampil menyemai bibit-bibit kebaikan (melalui keteladanan), menyediakan lahan pada organisasi yang menghargai pelayanan, serta menyiraminya dengan imbalan memadai, betapa indahnya dunia kerja.

Institusi keluarga yang sedang mengalami keruntuhan, hubungan antar manusia yang memanas di mana-mana, juga ikut ketularan. Ia yang tekun di jalan ini akan mengerti, dalam jangka panjang hanya kebaikan yang paling menyelamatkan. Compassion is the best protection. Inilah survival of the kindest. Yang bertahan pada akhirnya hanyalah yang bernafas dengan kebaikan.

Ini tidak perlu dilakukan dengan cara yang hebat-hebat. Seorang wanita bule di Ubud Bali memberi makan pada sejumlah anjing kampung setiap hari. Sahabat kasir mengembalikan uang lebih nasabah. Suami membantu isterinya mencuci piring ketika pembantu pulang kampung. Ada Ibu yang menemukan kebahagiaan sekaligus kebanggaan dengan menyayangi anak-anaknya. Tetangga non muslim ikut menjaga rumah-rumah yang kosong di hari-hari lebaran.

Mengulangi pesan di atas, ketika kita melaksanakan kebaikan sesungguhnya tidak saja sedang menolong orang, namun juga mendidik diri untuk menjadi baik. Dan kebaikan inilah suatu hari yang akan menyelamatkan.

Perhatikan pesan seorang guru: “Memberilah terus menerus. Dan lihat wajahmu berubah menjadi lebih lembut di cermin setelah melakukan banyak pemberian”. Bagi yang sudah ngelakoni, tidak saja muka jadi lembut, kehidupan memunculkan kelembutan di mana-mana. Isteri, suami semuanya terlihat lembut. Bukan karena berubah dalam sesaat, namun karena kaca mata yang dikenakan adalah kaca mata kelembutan. Sehingga semuanya tidak punya wajah lain terkecuali kelembutan.

2 Responses so far.

Leave a Reply

Silahkan berkomentar..

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

BIKIN WEBSITE MURAH

Popular Post

Labels

Opini Tips Internet Profil Bisnis Online Tips Psikologi Televisi Just 4 Laugh Kesehatan Tokoh web desain Bloging Cerpen Motivasi Gede Prama Internet Politic Joke. jasa web murah Blogger Dasar Blog SEO software website murah Kisah Sukses NLP Opinion Pendidikan Politik Tips Bisnis Tips Blogging desain internet marketing jasa install wordpress murah online shop Artikel Hypnosis Cara Pembuatan Website Healthy Komputer Mind Slengeean artikel web cloning toko market place dahlan iskan jasa blogspot jasa pembuatan blog profesional landing page logo market place nusapenida tour scrap toko online web murah website penjualan Anak Art Audio CMS. Cendekiawan Chating Cinta DPR RI 2014 Film Filsafat Jiddu Krishnamurti KAMUS KUTAI Kamus Daerah Pemilu 2014 Pendidikan anak Pengembangan Diri Reality Show Riset KW SMS Motivasi Sport Tokoh Investasi Trader Vibrasi alam alat berat android anggota legislatif apilkasi baca buku baca bahasa bahasa Kutai bali explore ban forklift belajar membuat website buat website buku bumi caleg 2014 desa id domain e commerce ebook forex forklift jalan-jalan jasa pembuatan web desa jasa seo jasa web desa jasa web desa kalimantan jasa web desa sulawesi jasa website murah kamus Online Kutai kursus web online kursus wordpress membuat blog caleg membuat blog murah memilih wordpress menu motivasi nama anak negara noorel nusa penida paket nusapenida pembuata web desa kutai kartanegara pembuatan web desa papua permak blog perpustakaan digital desa. pikiran pola hidup pt noorel pt noorel idea puisi religy sastrawan sosmed teknik seo sederhana tour bali tour nusapenida web sales website sales wisata bali

- Copyright © Handi Yan Blog -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -