Posted by : Unknown Saturday, August 08, 2009

Well, saat menuliskan judul di atas, saya tersenyum-senyum sendiri… Karena mudah dirasakan bagi kawan-kawan seusia saya, judul itu akan mengingatkan pada slogan-slogan Orde Baru yang senang pembolak-balikan kata seperti itu. Mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olah raga. Menyehatkan masyarakat, dan memasyarakatkan kesehatan.

Terlepas dari gaya bahasa itu sering dipakai di Orde Baru, gaya bahasa itu mengandung kearifan linguistik yang menarik. Hanya dengan membolak-balik kata, sudah tercipta dua pengertian yang berbeda secara drastis. Bahkan keduanya mengandung kedalaman linguistik yang sarat makna.
Mungkinkah NLP di-Indonesia-kan dan Indonesia di-NLP-kan?

Meng-Indonesiakan NLP
Kata meng-Indonesiakan NLP, setidaknya memiliki beberapa presuposisi (re : asumsi) bahwa :

1. Indonesia itu eksis

2. NLP itu eksis

3. Sesuatu hal, bisa (dapat) di-Indonesia-kan.

4. NLP bisa (dapat) di Indonesia-kan.

5.Ketika di-Indonesia-kan, sesuatu itu (termasuk NLP) akan memiliki nilai (value) tertentu, makanya kita ingin melakukannya, right?

6.“Meng-Indonesia-kan” adalah merujuk pada suatu “proses tertentu” (yang kita belum ketahui maknanya).

Dari sejumlah presuposisi di atas, no 1 – 5 dapat kita telan mentah-mentah dengan mudah. Sedangkan presuposisi nomer 6 masih harus kita “matang”-kan sebelum kita telan… ?

Presuposisi nomer 6 adalah berbentuk Unspecified Verbs (Kata Kerja yang tidak jelas). Kita perlu me-matang-kannya dengan melalui proses Meta Model. Apa tepatnya yang dimaksud dengan kata “meng-Indonesia-kan” itu?

> Apakah meng-Indonesia-kan itu berarti “menerjemahkan” NLP agar menjadi berbahasa Indonesia? Kalau ini yang kita maksudkan, maka menjadi mudah sekali langkahnya. Blog-blog mengenai NLP, PortalNLP, dan penerbitan buku NP berbahasa Indonesia sudah banyak dibuat.

> Ataukah meng-Indonesia-kan itu berarti menjadikan NLP menjadi hak milik Indonesia? Wah, yang ini perlu melalui proses akuisisi hak milik paten / lisensi. Sepertinya bukan ini yang kita maksudkan.

> Ataukah meng-Indonesia-kan itu berarti NLP yang sekarang tidak/belum memiliki sifat, watak, makna dan nilai-nilai ke-Indonesia-an?

Melalui Meta Model juga, kita dapat menanyakan (men-challenge) presuposisi point ke 3di atas. Presuposisi itu adalah Complex Equivalence (X = Y).

o Apa bukti bahwa NLP yang sekarang tidak/belum memiliki sifat, watak, makna dan nilai-nilai ke-Indonesia-an. Bukankah NLP setidaknya memiliki 2 akar keilmuan yang berasal dari berasal budaya Indonesia?

1. Gregory Bateson, bersama istrinya : Margareth Mead, adalah Anthropolog yang pernah tinggal di pulau Bali Indonesia, salah satunya mempelajari mengenai fenomena “trance”. Jika Anda tertarik, ini salah satu begitu banyak hasil karya mereka selama meneliti di Bali. Karya ini berbentuk DVD mengenai penelitian mereka tentang trance dan tarian Bali: http://media.media.psu.edu/moreInfo_24636DVD.html

2. Dr Richard Bandler dalam beberapa seminarnya mengatakan bahwa dirinya mempelajari dan memodel seorang Amerika yang mendalami ilmu “Subud” alias Susila Budhi Dharma. Dalam hal ini juga berkaitan dengan fenomena altered state. Anda dapat memperoleh CD yang memuat ucapan Dr. Richard Bandler ini di www.nlpstore.com.

Lha, jadi apa dong yang dimaksud dengan meng-Indonesia-kan NLP itu?

Agar menghasilkan suatu langkah kongkrit, marilah kita bedah NLP dalam 3 domain utamanya, sehinga menjadi jelas apa yang dimaksud dengan meng-Indonesia-kan NLP ini.

Dari sisi Neuro
Rasanya tidak ada perbedaan yang signifikan antara neurologis manusia secara rasial. Lagipula NLP sendiri meyakini bahwa Tuhan mengkaruniai Neurologis manusia memiliki kapabilitas yang cenderung sama. Kita dilahirkan dengan sistem “Neural Wiring” yang compatible sekalipun kita terlahir dari berbagai ras berbeda di belahan bumi yang berbeda.

Dari sisi Linguistik
Ini adalah bagian yang paling seru. Semenjak tahun 2000, concern saya mengenai linguistik Indonesia ini sudah di mulai, saat dihadapkan kenyataan bahwa Milton Model (kata lain dari Ericksonian Hypnosis) tidaklah secara serta merta dapat di-translate begitu saja.

Ericksonian, atau indirect conversational hypnosis (bolehlah kita sebut demikian), dikembangkan dari memanfaatkan gejala-gejala yang tumbuh secara gramatikal maupun leksikal di bahasa Inggris. Pembelajar Milton Model, dengan mudah akan menemukan bahwa penerjemahan Language Patterns tidak lantas akan membawa sifat-sifat hipnotiknya. Terutama kalau sudah menyinggung persoalan utilisasi ambiguity (ketaksaan) yang ada dalam bahasa.

Ambiguity dalam bahasa Inggris, saat diterjemahkan ke bahasa lain tidaklah serta merta langsung tetap menimbulkan ambiguity juga. Contoh: kata-kata yang sangat terkenal dari Milton Erickson yakni : That’s right now you can go into trance. Frasa ini memiliki punctuational ambiguity, dimana kata right dipakai untuk menyambung dua kalimat sehingga muncullah sifat hipnotiknya. Selain itu juga memiliki embedded command, yakni “go into trance!”

Nah, saat kalimat ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia : “Ya benar sekarang Anda dapat masuk ke dalam trance”. Maka sifat hypnotic dari punctuational ambiguity ini tidak terjadi, karena tidak ada yang ambigu secara punctuational dari kata “sekarang”. Yang tersisa hanyalah adanya “embedded command” yang muncul dari potongan frasa itu ? “Masuk ke dalam trance”.

Jadi sebagai kalimat yang sebelumnya memiliki setidaknya 2 gejala (hypno linguistic), maka setelah di terjemahkan ke bahasa Indonesia tinggal menjadi 1 gejala hypnotic). Catatan bagi Master Practitioner, sebenarnya masih ada gejala hypnotic language lain dalam frasa itu, namun tidaklah perlu kita bahas, mengingat ini hanyalah contoh sederhana saja.

Nah, jadi alih-alih menerjemahkan Milton Model language pattern, jauh akan lebih berguna jika kita menggali sendiri language pattern dari gramatikal dan leksikal Bahasa Indonesia yang tercinta.

Well, sudahkah kita belajar berbahasa Indonesia dan menggunakannya? Sudahkah kita menggali potensinya? Untungnya di dalam kelas NLP Practitioner kita lakukan sama-sama hal ini. Setelah penjelasan yang gamblang dan diberikan berbagai contoh riil, kami memberikan PR pada peserta untuk menciptakan beberapa ambiguity yang berasal dari Bahasa Indonesia.

Salah satu dari punctuational ambiguity yang berhasil digali saat di kelas Practitioner batch 1, dilakukan oleh Mas Zein Abidin (Motivator dari Jawa Timur). Ia menceritakan saat menginap di hotel danharus mengerjakan PR, tiba-tiba dapat ide kreatif. Begini kalimatnya kepada Mbak Receptonist “Mbak, saya ucapkan terima kasih saya kamar yang bagus di hotel ini.”

Tentunya Anda dapat menemukan bahwa kalimat Mas Zein Abidin in mengandung 3 language patterns yang dahsyat :

1.Punctuational ambiguity
2.Phonological ambiguity
3.Embedded command

Excellent Mas Zein!

Nah,
Saya jadi penasaran, berapa banyak kalimat language pattern berbentuk Ambiguity yang dapat Anda hasilkan, sekarang, segera setelah membaca contoh di atas?

Tentunya dengan mudah Anda rasakan, bahwa saat Anda memutuskan untuk melakuan latihan memproduksi sendiri ambiguity dari Bahasa Indonesia, Anda berarti sudah mulai meng-Indonesia-kan NLP secara linguistic lho.

Jadi, apakah Anda mau melakukan latihan itu sekarang, atau menyelesaikan dulu membaca artikel ini, itu terserah Anda. Anda juga boleh menentukan sendiri berapa banyak contoh yang akan Anda tuliskan di komentar di bawah ini untuk Anda bagi pada pembaca lainnya.

Dari sisi Programming
Wah ini yang paling menarik, sebab bicara programming adalah bicara pengalaman hidup. Bagian ini adalah bagian yang paling banyak dapat kita lakukan peng-Indonesia-an. Dalam arti men-utilisasi NLP dalam konteks situasi dan kondisi pengalaman hidup di Indonesia.

Penjelasannya demikian, teknik NLP seperti fast phobia cure, reframing dan lain-lain dikembangkan menjadi suatu ‘prosedur baku’ tentunya dari kecenderungan bagaimana suatu progam ter-install di benak manusia dari dunia barat. Misalkan mengenai konsep manajemen waktu di kepala kita (time line), metafor , utilisasi budaya dan kebiasaan hidup lainnya.

Salah satu contoh yang dapat kita lakukan misalkan dalam melakukan “strategy elicitation”, di kelas Master Practitioner kita mengajarkan bagaimana strategy elicitation dilakukan secara extensive sehingga seorang Master Practitioner dapat melakukan strategy elicitation secara “live” dan informal, ini yang disebut dengan strategy detecting.

Nah, latihan dengan meminta peserta training melakukan strategy detecting tidak saja secara VAK, namun juga Modal Operator dan Meta Program. Kemudian peserta kita minta secara live keluar dari lokasi pelatihan, mencari “klien” seperti sopir taksi yang lagi kongkow, office boy, penjaga toko dll. Peserta training harus mampu mendeteksi adanya “limiting belief” dari orang-orang ini, yang dilakukan tanpa situasi ‘formal therapy’, jadi situasinya adalah daily conversational.

Nah, disini aka terungkap berbagai peristiwa cultural programming yang dialami masyarakat, yang menghasilkan adanya limiting belief. Kemudian, tanpa sepengetahuan si “klien”, peserta Master Practitioner melakukan langkah berikutnya, yakni conversational belief change.

Buuum!

Tanpa alasan yang jelas, si klien” tiba-tiba terpingkal-pingkal saat ditanya mengenai problem limiting belief yang semula dimilikinya. Kepercayaan yang membelenggu itu tiba-tiba sirna seperti ditiup angin bahorok! Edannya, bahkan mereka (‘klien’) itu sendiri tidak tahu, kenapa kok belief yang membelenggu itu tiba-tiba hilang!?

Wuihhh, hebatya peserta Master Practitioner lho, mereka dapat melakukan pencerahan pada orang lain tanpa mengetahui content, tanpa memberikan nasehat apapun… Sungguh mengagumkan kemampuan belajar dan niat tulus mereka membantu orang lain.

Well, apakah Anda harus menjadi Master Practitioner dulu untuk dapat melakukan “meng-Indonesia-kan” NLP ini? Oooh, tentu saja tidak! Bahkan seteah membaca tulisan ini, Anda langsung dapat memutuskan membantu orang lain dalam situasi dan fenomena Indonesia.

Berbicara pada Anda sebagai manusia pembelajar, tentunya merupakan keputusan yang mudah untuk ikut serta dalam gerakan meng-Indonesia-kan NLP ini. Tulisan Mas Krishnamurti, Kang Asep, Mas Yan, dan tentunya kawan-kawan kontributor yang lainnya, sudah siap untuk Anda praktekan. Bukankah beliau-beliau sudah banyak sekali menggali fenomena budaya Indonesia dan bahkan menciptakan teknik siap pakai?
Mari bergerak lebih maju lagi… Ketika Anda mengamati gejala lain seperti latah, ngerumpi, atau TTM yang cukup banyak terjadi di budaya Indonesia, Apa yang dapat Anda lakukan?

TTM?

Ya.

Sedih lho ya, sejak kata ini dipopulerkan, lantas dengan cepat sepertinya menjadi suatu budaya baru yang terlegitimasi di kalangan masyarakat Indonesia. Saya tidak menyalahkan penyanyinya lho. Itu hanya ‘efek samping’ dari sebuah lagu yang jujur kok! Begitulah kalau jadi artis, siapa saja yang misalkan membuka diri mengenai sesuatu ‘kebiasaan menyimpang’ dirinya, maka ia harus siap menjadi ‘model baru’ bagi penggemarnya untuk pembenaran atas ’perilaku menyimpang’ itu. Bukankah mereka ini idola?

Well,

Salah satu alumni Master Practitioner NLP dari Sinergy Lintas Batas telah menulis artikel yang bagus mengenai bagaimana cara mengatasi persoalan jika kita jatuh cinta lagi padahal kita sudah memiliki pasangan hidup? Artikel berjudul “Aduh, aku jatuh cinta lagi pada Dian Sastro”, dapat Anda baca di www.republikNLP.com, karya dari Mas Supartono Muhammad.

Mas Tono telah menyingkap dengan cara yang mudah dipahami, bagaimana caranya menggunakan submodality re-map, kita bisa melunturkan peristiwa ‘jatuh cinta lagi’ yang tidak perlu itu.
Bravo Mas Tono!

Nah masih soal budaya, kita ngomongin latah yuk!

Latah, apapun sebabnya dapat dibantu dengan membangun suatu ‘state of controlled’, yang kemudian Anda amplify hingga kuat, dan di anchor! Kemudian buat future pacing dengan cara melakukan proses asosiasi antara pemicu latah yang akan terjadi di masa depan, dengan anchor state of controlled itu.

Ohya, benar! Jika Anda sedang memikirkan penggunaan swish pattern untuk membuang latah… Itu juga bisa dilakukan, yang penting menemukan cue picture-nya harus tepat. Cue picture-nya harus associated, bahkan perlu ada pemicu suara dan stimulus kinestetik lain yang seriil mungkin sesuai dengan pemicu aslinya. Desire picture-nya apa? Tentu saja adalah state of controlled itu. Hati-hati dalam menggunakan istilah state of controlled pada klien yang latahnya adalah kelamin laki-laki. ?

Wah… wah…wah…,

Ada yang masih digali lebih jauh?

Bolehhhh.

Bagi yang sudah lebih advanced keilmuan NLP-nya, Anda boleh saja melakukan submodality re-mapping pada peristiwa latah. Lakukan saja contrastive analysis antara situasi latah dan situasi state of control itu. Dan lakukan re-map!

Voila! Lenyap tanpa bekas!

Masih belum puas?

Bolehhhh

Yang lebih advanced lagi dong…!

Oke, silahkan lakukan strategy elicitation pada peristiwa akan dan sedang latah. Kemudian juga lakukan strategy elicitation pada saat mereka amat controlled. Lantas install deh strategy pada saat controlled ke dalam situasi yang sering memicu mereka latah. Selesai!

“Lho Cak, gitu tah caranya melakukan NLP dengan elegan? Bisa cem maacem caranya ta’iye…. Lho…, uennnnak nik ngono!”

Mungkin itu yang Anda ucapkan kalau Anda berasal dari daerah Malang, Madura atau Jawa Timur lainnya… Suennenge rek, saya ini sama orang Jawa Timur…

Ngomong-ngomong soal Jawa Timur dan Madura, katanya terkenal dengan istilah “Ndak Tentu”. Saya dulu pernah dengar kisah budaya “Ndak Tentu” ini di berbagai ceramah agama, Anda bisa baca kisah “Slilit Sang Kyai” karyanya Emha Ainun Najib untuk memahami hal itu. Hal senada juga pernah diulas oleh Kang Asep dalam tulisan dahsyatnya berjudul “Hypnosis itu Haram”.

Begini kisahnya, ada seseorang yang nanya sama Pak Kyai dari Madura “Apa hukumnya makan itu?” Dijawab dengan lantang oleh Pak Kyai : “Makan itu hukumnya ‘Ndak Tentu’ dikkk!”

Keruan si penanya muring-muring, dan minta penjelasan.

Akhirnya Pak Kyai menjawab :
“Kalau Anda sedang puasa dan sudah tiba saat berbuka, maka makan itu hukumnya wajib!”
“Kalau di rumah Anda ada makanan, mau Anda makan atau tidak itu hukumnya mubah atau malah halal!”
“Kalau Anda makan daging babi, makan uang orang lain, makan waktu kerja di kantor untuk main games, makan pulsa kantor untuk kepentingan sendiri…, itu hukumnya haram!”
“Kalau Anda makan uang proyek, makan uang masyarakat, makan uang pajak, makan harta anak yatim … itu hukumnya haram juancukkkk!”

Hehehehe, luar biasa budaya “ndak tentu” ini.

Sekaipun kita terpingkal-pingkal, sebenarnya kisah di atas justru merupakan cermin kearifan lokal dari orang Madura yang mengerti esensi bahwa realitas itu sangat subjektif. Jadi nampaknya orang Madura mustinya lebih mudah belajar NLP, karena budaya itu cocok benar dengan keyakinan “The Map Is Not The Territory” yang dianut para NLP-er. Atau sebenarnya orang Madura sudah sangat nge-NLP banget.

Merujuk pada fenomema “Ndak Tentu”, saya pernah menemui seorang teman dari demikian sulit membedakan: mana yang ‘pasti’ dan mana yang ‘khayalan’. Misalkan ia tidak bisa membedakan sesuatu yang dipikirannya itu hanya khayalan belaka, atau sebenarnya kenyataan. Pakah tadi benar-benar melihat macan terbang, atau itu cuman khayalannya saja.

Ia minta dibantu untuk lebih mudah membedakan ke dua hal itu, karena ia hampir masuk dalam gejala ‘waham kebesaran’ (Grandeur Delusion).

Dengan cepat saya teringat kisah dari Dr Bandler, dan saya ikuti langkah-langkahnya.

Saya ajak si Klien meng-elicit 2 kondisi submodality (contrastive analysis) dari apa yang sangat dia yakin benar, dan sesuatu yang berupa khayalan.

Setelah mengambil sampai 3 pasang sample contrastive analysis, saya temukan perbedaannya terletak di submodality visual. Hal yang ‘yakin’ memiliki gambar yang berbingkai dan isi gambarnya tetap. Sedangkan hal yang ‘khayalan’ gambarnya berganti-ganti, berubah-ubah, tidak berbingkai.

Nah, sudah jelas apa yang akan kita lakukan kemudian. Pada saat ia harus memperlakukan sesuatu sebagai khayalan, maka ia harus menyimpan memorynya dalam submodality yang sesuai. Selesai!

Jadi demikian banyak yang bisa kita lakukan dengan melakukan re-programming hal-hal dalam budaya lokal yang mungkin tidak produktif.

Nah bagaimana dengan budaya lokal yang produktif dan amat bagus untuk disebarkan pada masyarakat? Misal kisah-kisah kedaerahan yang sarat dengan petuah luhur, budaya tata krama yang adiluhung, dan juga ajaran budi pekerti yang penting untuk kita dan anak cucu kita.

Salah satu cara adalah dengan mengembangkan teknik bercerita (metaforik) yang di-engineer secara linguistic. Misal, gunakan embedded command untuk memasukkan nilai-nilai luhur itu saat menceritakan pada anak didik, gunakan intonasi dan analog marking untuk mengasosiasikan hal tertentu, gunakan pola bahasa tertentu untuk membangun efek asosiasi dan diasasosiasi.

Bagi yang sudah lebih canggih, Anda dapat menyusun kisah-kisah ini dalam bentuk nested metaphor bahkan sekaligus untuk meng-install suatu strategy tertentu menggunakan chaining anchor dalam nested loops-nya. Nested loop bukan sekedar menyusun kisah, dan mengurutkannya lho. Untuk mampu melakukannya, lebih mudahnya Anda meng-ikuti Licensed Master Practitioner atau melihat video-video dari Dr. Bandler.

Kisah Baratayudha, 1001 Malam, adalah contoh yang luar biasa bagaimana suatu nilai-nilai di-install kedalam pikiran pembacanya melalui nested loops. Beberapa film atau sinema elektronik yang bersambung…, mungkin juga mengandung nested loops dan chaining anchor tanpa disadari oleh produsernya. Masalahnya “apa yang diinstall di kepala pemirsa?”

Buku ‘The Adventures of Anybody’ karya Dr Richard Bandler adalah contoh luar biasa bagaimana nested loop dibuat dan dipergunakan dalam kisah. Sangat bagus dibaca bagi yang mampu berbahasa Inggris dengan baik, atau untuk dibacakan sebagai kisah pengantar tidur pada anak yang mampu berbahasa Inggris. Sungguh suatu masterpiece yang luar biasa dari Dr Richard Bandler!

Meng-NLP-kan Indonesia
Oh, rupanya kita ganti bab sekarang…! Berganti membahas frasa meng-NLP-kan Indonesia.
Well, dalam kalimat meng-NLP-kan Indonesia, ada presuposisi apa saja yah?

1.Indonesia itu eksis

2.NLP itu eksis

3.Sesuatu hal, bisa (dapat) di-NLP-kan.

4.Indonesia bisa (dapat) di NLP-kan.

5.Ketika di-NLP-kan, sesuatu itu (termasuk Indonesia) akan memiliki nilai (value) tertentu, makanya kita ingin melakukannya, right?

6.“Meng-NLP-kan” adalah suatu proses tertentu (yang ingin kita ketahui maknanya).
BTW, frasa meng-NLP kan Indonesia juga memiliki dapat terkesan suatu ‘waham kebesaran’ (Grandeur Delusion), seolah Indonesia tidak cukup baik sehingga perlu di NLP-kan…

Bukan…, bukan demikian niatnya!
Well, jadi mungkin kita baiknya memilih makna lain. Bagaimana jika frasa meng-NLP-kan Indonesia kita maknai sebagai membuat masyarakat Indonesia menjadi lebih menguasai NLP. Ah, sepertinya makna ini lebih baik..!

Oke, frasa men-NLP-kan Indonesia kita pilih sebagai makna: “mensosialisasikan NLP pada masyarakat Indonesia, sehinga mereka mampu menggunakannya dan memetik manfaat atasnya”.
Jadi apa yang bisa kita lakukan?

Oh… banyak sekali ya…

Anda bisa menulis di blog Anda berbagai artikel, tips, teknik mengenai NLP, yang isinya memberdayakan pembacanya. Memberdayakan pembaca artinya, setelah membaca artikel Anda mereka merasa lebih berdaya, lebih bersyukur, lebih positif, dan bukan sebaliknya.

Anda juga dapat menulis ebook, buku, membuat video gratis di Youtube dan lain-lain untuk membuat NLP makin populer, makin mudah diakses oleh lebih banyak orang. Hmmm, saya masih ingat ketika menulis blog NLP dan Hypnosis (yang artikelnya boleh dibaca gratis) untuk pertama kali dalam bahasa Indonesia di tahun 2005. Saat itu begitu sulitnya mencari literatur NLP dan Hypnosis berbahasa Indonesia yang gratis di Internet.. Sekarang… Luar biasa banyaknya!

Semua kontributor di PortalNLP jelas-jelas memiliki misi men-NLP-kan Indonesia, terlihat dari getolnya mereka berbagi ilmu secara gratis. Bayangkan berapa banyak uang, waktu dan energy yang sudah mereka curahkan untuk mendapatkan kesempatan training (di dalam dan luar negeri), mengunyah ilmu NLP itu hingga dapat lebih mudah dicerna, membawa dalam konteks lokal, mempraktekkan di sana sini, kemudian menarik lesson learnt, sehingga akhirnya menjadi sebuah artikel. Ebook-ebook gratis mengenai hypnosis dari Mas Yan Nurindra merupakan contoh yang luar biasa dari kesediaan berbagi. Sungguh kita semua diberkati oleh Tuhan YME.

Anda dapat pula membuat mailing list, memanfaatkan facebook, sms, radio, dan sebagainya. Upaya Mas Teddi membangun milist NLP sungguh luar biasa dan tak luput dari berbagai ujian dan gangguan. Namun yang namanya misi harus jalan terus. Sungguh kita semua diberkati oleh Tuhan YME.

Beberapa teman, meng-NLP-kan Indonesia dengan cara berbagi melalui sharing dan training gratis atau berbiaya murah. Mas Krisnamurti mungkin yang paling banyak berbagi ilmu NLP melalui training gratis. Selain itu, Kang Asep dan yang lainnya juga saya tahu banyak berbagi dengan pelatihan NLP gratis semacam ini.

Beberapa dari Anda mungkin pernah mendengar adanya ‘Konspirasi SLB’? Yakni sebuah janji dari alumni Pelatihan NLP Practitioner maupun Master Practitioner dari Sinergy Lintas Batas untuk terlibat dalam Konspirasi Kebaikan. Dalam sehari minimal melakukan satu kebaikan pada satu orang. Misal membantu orang keluar dari phobia, berhenti merokok, ataupun me-reframe suatu peristiwa, sehingga orang itu merasa lebih baik kondisinya.

Atau mungkin hanya menceritakan suatu metafor yang dapat menggugah semangat lagi, atau hanya satu senyuman tulus yang membuat orang merasa diterima dengan baik… Itu semua adalah wujud dari meng-NLP-kan Indonesia.

Bukan cuma slogan
Jadi ternyata meng-Indonesia-kan NLP dan meng-NLP-kan Indonesia bukanlah suatu slogan kosong. Mungkin ini adalah masih langkah awal yang kecil. Dengan bergabungnya Anda pada barisan ini, berapa banyak perubahan positif di Indonesia akan terjadi.

Mewujudkan mimpi besar, harus dimulai dari memulai langkah-langkah itu, sekalipun masih langkah kecil. Melalui artikel ini saya berterima kasih pada Anda semua yang senantiasa berbagi untuk membuat Indonesia selalu menjadi yang terbaik dan bertambah baik!

Karena kita semua tahu, Anda juga bisa!

One Response so far.

Leave a Reply

Silahkan berkomentar..

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

BIKIN WEBSITE MURAH

Popular Post

Labels

Opini Tips Internet Profil Bisnis Online Psikologi Televisi Tips Just 4 Laugh Kesehatan Tokoh web desain Bloging Cerpen Motivasi Gede Prama Internet Politic Joke. jasa web murah Blogger Dasar Blog SEO software website murah Kisah Sukses NLP Opinion Pendidikan Politik Tips Bisnis Tips Blogging desain internet marketing jasa install wordpress murah online shop Artikel Hypnosis Cara Pembuatan Website Healthy Komputer Mind Slengeean artikel web cloning toko market place dahlan iskan jasa blogspot jasa pembuatan blog profesional landing page logo market place nusapenida tour scrap toko online web murah website penjualan Anak Art Audio CMS. Cendekiawan Chating Cinta DPR RI 2014 Film Filsafat Jiddu Krishnamurti KAMUS KUTAI Kamus Daerah Pemilu 2014 Pendidikan anak Pengembangan Diri Reality Show Riset KW SMS Motivasi Sport Tokoh Investasi Trader Vibrasi alam alat berat android anggota legislatif apilkasi baca buku baca bahasa bahasa Kutai bali explore ban forklift belajar membuat website buat website buku bumi caleg 2014 desa id domain e commerce ebook forex forklift jalan-jalan jasa pembuatan web desa jasa seo jasa web desa jasa web desa kalimantan jasa web desa sulawesi jasa website murah kamus Online Kutai kursus web online kursus wordpress membuat blog caleg membuat blog murah memilih wordpress menu motivasi nama anak negara noorel nusa penida paket nusapenida pembuata web desa kutai kartanegara pembuatan web desa papua permak blog perpustakaan digital desa. pikiran pola hidup pt noorel pt noorel idea puisi religy sastrawan sosmed teknik seo sederhana tour bali tour nusapenida web sales website sales wisata bali

- Copyright © Handi Yan Blog -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -