Bunuh Diri, Lebih Baik ?


Oleh : Handi Yan

Dengan wajah pucat, bibir bergetar dan tatapan mata yang kosong Anisa mulai melangkahkan kakinya keatas balkon tingkat 5 bangunan kokoh itu. Derai air matanya membasahi bibirnya yang tampak sangat indah. Mata birunya seakan berkata bahwa ia tak sanggup lagi menghadapi semua ini. Dan ia memutuskan untuk mengakhiri semua sisa hidupnya dengan terjun kelantai bawah.

Ia melihat kesekelilingnya yang tampak sangat sepi. Ia tidak mau usaha bunuh dirinya ini akan deketahui dan digagalkan oleh orang lain. Langkahnya yang gemetar semakin cepat seiring derap jantungnya yang semakin menderu. Terjadi peperangan batin didalam jiwanya yang mulai kosong dimana ego, emosi, kebencian, dan dendam telah mengalahkan logika dan kemurnian jiwanya.

Imajinasinya memunculkan semua gambar. Seakan seperti sebuah rekaman gambar yang menyayat-nyayat hati dan jiwanya. Suara kebencian yang diucapkan kepadanya, seakan memburunya untuk semakin cepat untuk membuat semua ini berakhir.

Dia menatap kebawah dan disana dia lihat hanyalah potongan-potongan gambar masalah dan penderitaannya selama ini. Telinganya seakan dibisiki oleh kalimat perih oleh orang yang sangat dikasihinya.

Dan ketika dia mulai melangkah kakinya untuk mulai terjun dengan penuh tangisan air mata. Seseorang memanggilnya dari belakang. Hai Bu Anisa, seingat saya tangganya bukan disitu deh.
Suara yang cukup anisa kenal itu cukup untuk menghentikan sementara kegilaan yang ia lakukan. Ketika anisa menoleh, tangan kekar menarik lengan Anisa dan kemudian ia terjatuh kedalam pelukan lelaki berbadan tegap itu.

Anisa meronta dan kemudian mendorong tubuh pria itu. Lepaskan aku Deny, aku tidak ingin hidup lagi. Semuanya telah berakhir.Aku harus mati, aku tak sanggup lagi. Jerit anisa
Oke..oke..Baiklah anisa rilekslah sedikit…Tarik dulu nafas kamu. Jika semua ini harus berakhir baiklah. Tapi tidak ada yang mengatakan sekarang bukan. Apakah bisa lima menit lagi, sehari lagi, atau setahun lagi.

Jangan bercanda Deny aku sudah muak.Ucap Anisa sambil mendorong untuk melepaskan tubuhnya dari deny. Hmmmm..aku juga sudah muak dengan hidupku Anisa. Usahaku hancur, orang yang kucintai pergi meninggalkanku. Keluargaku hancur bagaikan kepingan kaca yang terpecah karena jatuh ke lantai beton. Lalu kenapa denganmu? Setahuku kamu wanita yang kuat.

Anisa mulai terkulai lemas dan deny pun melepaskannya untuk membiarkan Anisa duduk kelantai dengan mata yang berkaca-kaca. Keny deeen dia mengkhianatiku, semua telah aku berikan untuknya. Bertahun-tahun aku berkorban untuknya, karena aku sangat mencintainya. Dia telah berjanji untuk menikah dengan ku tahun ini. Tapi kini dia dengan mudahnya memutuskan semuanya. Semuanya telah berakhir. Semuanya hancur…Semuanya tidak menyayangiku lagi.
Tidak ada yang perduli denganku, lebih baik mati. Tuturnya terbata- bata.

Hmmm…gitu ya. Sejak kapan kamu memutuskan semua ini telah berakhir.Tanya deny lembut. Yaaaa sejak semuanya membenciku. Jawab nisa ketus…Oh..gitu. Emang siapa sih persisnya semua yang membencimu itu selain Keny? Tanya Deny kemudian, dan tampak Anisa hanya tertunduk tanpa jawaban.
Saya rasa dunia mu yang indah ini tidak Cuma terdiri dari Deny saja, apakah kamu yakin semuanya telah membencimu. Tidak seorangpun..yang sayang kamu Nis. Setiap pagi aku tahu banyak yang meraskan kedamaian mendengaarkan suaramu, melihat tawamu, apakah mereka itu tidak peduli lagi Nis.

Anisa hanya tertegun mendengarkan pertanyaan Deny. Isi kepalanya seakan akan terjungkir balikkan. Dia hanya tertunduk malu akan apa yang telah ia lakukan.

Kamu tahu kan Nis Jeremy. Anak itu telah difonis Kanker parah, takkan hidup lebih dari 6 bulan lagi. Mungkin jika dia berpikir pesimis. Mungkin inilah akhir dari semuanya dan mungkin menyalahkan Tuhan. Tapi tidak, ia bisa melihat jutaan bahkan miliaran anugrah yang telah diberikan Tuhan di bumi ini.

Begitu banyak cinta yang perlu disyukuri. Ia bisa memetik makna sebenarnya dari setiap kebahagian, penderitaan, senyum dan tawa. Semuanya hanyalah ilusi yang berasal dari pikiran. Kitalah yang menganggap setiap kejadian itu sedih dan bahagia.
Padahal semuanya sama tanpa makna jika kita tidak memberikannya makna bahagia atau sedih.

Dan tahu gak dia begitu semangat untuk menyelesaikan sisa hidupnya, tanpa menyerah dia belajar dan berbagi. Dia kini telah jadi seorang motivator untuk orang-orang besar didunia ini. Hingga akhirnya umurnya lebih dari sekedar 6 bulan saja, seperti yang divoniskan ilmu pengetahuan. Kata deny sambil tersenyum lembut.

Makasih Deny, masih banyak yang musti aku lakukan. Perang ini belum berakhir…Tutur Anisa sedikit lebih bersemangat.
Terus sekarang udah tahukan mana tangga yang benar jika ingin turun kelantai bawah. Canda Deny dengan sedikit tawa kecil. Dan Anisa hanya tersenyum tersipu malu.

Comments

Popular Posts