Satpol PP in My Imagine

By ; Hendi Yan

Suatu sore saya menonton kejadian lucu disebuah acara berita di TRANS7. Diberita ini tampak seorang oknum Satpol PP yang hampir menjadi bulan-bulanan aparat kepolisian. Berawal dari suatu proses penertiban yang mana seperti biasa para oknum ini biasa main pukul dan sangat persuasive (hehe klewat persuasive malah). Yang menjadi masalah yang dipukul komandan polisi yang berbaju preman.Hmmm keruan saja bla bla bla, anda tahu sendirilah kalo para jagoan ketemu jagoan dari padepokan yang berbeda.(seperi jaman majapait duluu)

Yang saya sesalkan dan tentu saja anda juga sesalkan..(hehe kita kok jadi penuh penyesalan gini ya) Kenapa giliran rakyat jelata yang hina dina (halah hiperbola banget), yang Cuma mencari makan dengan modal pendidikan, behaviour, mindset, dan belive system yang sederhana justru didiamkan saja ketika mendapatkan perlakuan istimewa dari oknum Satpol PP yang terhormat. Dengan pentungan, bogem mentah dan matang,ataupun tendangan ala Bruce Lee.Wataaaaa… Aparat Keep Smiling only. Hmmm Manaaa… Manaaa the Justice itu. Keadilan man harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Bulu roma tukang bakso, ataupun bulu kuduk sang jenderal.Hehe Peace Man…!!

Saya membayangkan suatu saat aparat-aparat kita ini, dalam bertugas selalu mengedepankan pendekatan penuh kasih sayang, kerjasama, bertutur kata lembut penuh dengan negosiasi cerdas yang saling menguntungkan. Toh kita sama-sama cari makan, buat apa galak-galak. Kan enak tu kalo yang digusur/ditertibkan senang hatinya, yang bertugas ga capek kluarin tenaga dalam apalagi sampe TKO di tengah-tengah pasar.

Hmmm emang tidak mudah bagi yang mindsetnya pesimistis dan militeristis apalagi yang percaya ama mistis..(halah sok puitiiis, narcisss)basi dech ach!!
Iya donk, apa yang ga mungkin kita kan terkenal dengan Negara beragama, yang santun penuh kasih sayang dan kegotong royongan.

Menurut saya ada beberapa hal pokok yang perlu ditanamkan dalam mindset pelaksana tugas keamanan dan ketertiban.

- Pedagang kaki lima, pemulung, rakyat pinggiran dll, juga manusia seperti
Pak satpol yang berhak untuk disayangi dan di hargai.

- Penertiban tidak harus dengan kekerasan, negosiasi cerdas dan win-win
Solution akan jauh lebih bernilai di mata Tuhan daripada tendangan dan
Pentungan.

- Kekuasaan dan wewenang bukanlah kekuasaan penuh untuk mengadili
Apalagi menghakimi secara individual. Hanya Tuhan yang berhak.

- Yang terakhir.. Malu doonk anak kita yang cantik/cakep dan lucu-lucu
Makan dari hasil keringat yang dipake untuk nendangin tukang bakso.
Kasian sekali anak kita.

Ya ini Cuma opini saya saja, moga-moga bisa bermanfaat demi perkembangan Korps Satpol PP kedepan. Jangan sampai korps ini identik dengan tempramen dan emosi yang kurang pintar, communication skill seperti manusia purba, dan body language seperti atlit karate yang lagi bertanding.Jangan marah ya baaaang.

Itu Cuma pendapat saya, Bagaimana dengan pembaca yang terhormat apa komentar anda ?

Comments

Popular posts